3 dimensi terjemahan Banjir/longsor & Kelaparan di Gayo oleh Radensyah, S.Pd
Masyarakat gayo merasakan kepedihan, berhemat beras hari demi hari sampai stok pangan benar-benar habis dan sudah banyak yang “kelaparan”. Ini karena kebutuhan pangan dasar semakin langka. Secara geografis, banjir bandang/longsor ini menyebabkan akses perjalanan darat terputus. Kepedihan Bencana ini dapat kita rasakan langsung tanpa harus diinformasikan oleh media atau orang lain. Padamnya listrik, habisnya stok bensin menambah kesengsaraan masyarakat gayo di gayo lues, Aceh tengah dan bener meriah. Belum lagi yang rumahnya, kebun, dan aset berharga lain yang terdampak.
Setidaknya, bencana menyedihkan ahir tahun 2025 ini, dapat diterjemahkan menjadi tiga dimensi; yakni dimensi IPTEK, dimensi kemanusiaan dan dimensi kesadaran. Dimensi-dimensi ini adalah hasil penyederhanaan penulis yang sebelumnya terinspirasi dari uraian pesan khutbah jumat oleh Ustadz Emir Pada 5 desember 2025 lalu di desa merah mege Atu lintang. Term Dimensi asli yang Beliau gunakan adalah dimensi iman, dimensi ilmu pengetahuan dan dimensi sosial. Dalam tulisan ini Penulis memakai term “3 dimensi” itu.
Pertama, Dimensi IPTEK
Hanya dengan hujan 3 hari kurang lebih, peradaban sains dan teknologi di gayo lumpuh total. Dalam “bahasa kita” Seolah Tuhan ingin menyampaikan “ini Aku turunkan hujan selama 3 hari dan itu dampaknya, mana peradaban ilmu sains dan teknologimu, coba pulihkan dengan cepat”. Tuhan seolah mendidik manusia, apa cuma itu kemampuan teknologimu, hujan baru 3 hari saja kamu sudah kualahan kocar-kacir. Ini jelas penulis rasakan, lumpuh total, disana sini penuh tagar #lapar dan #kelaparan.
Pada dimensi ini, harus disadari segera, betapa tidak berdayanya IPTEK manusia dihadapan ALLAH SWT. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang selama ini kita silau dan merasa sudah hebat ternyata lumpuh total seketika. Katanya kita sudah di era 4.0, artifical inteligence dan perkembangan hardwere dan mesin canggih, ternyata itu semua nol besar dihadapan Sang Pencipta. Untuk bangkit, kita harus “kelaparan” dulu baru dapat pulih itupun sangat terbilang lama jika ditilik dari modernnya teknologi saat ini. Seandainya, kita diserang israel atau peperangan tiba-tiba, dalam keadaan seperti ini alangkah sedihnya. Sepertinya banyak dari kita disibukkan dengan ritual-ritual individualis vertikal sampai lupa nasib anak cucu kita, alam dan orang sekitar yang kita cintai. Persoalan seriusnya bukanlah hanya dititik ini, tetapi pada krisis Akhlak. John naisbitt menyinggung ini dengan "High Tech, Low Touch"
Apa yang sesunggunya yang terjadi dalam dunia IPTEK kita saat ini? Perkembangan IPTEK saat ini cenderung kearah kehancuran dari pada maslahah. faktanya begini, untuk merusak (manusia dan alam) IPTEK sangat cepat, sementara untuk memperbaiki/menjaga, IPTEK sangat lambat. Contoh, membangun proyek, menebang pohon sangat mahir, sistematis dan tersruktur tanpa menghiraukan amdal. sementara, untuk pelestarian dan penyelamatan, IPTEK lambat bahkan nyaris tidak ada. Begitulah miniatur ketika IPTEK ditangan manusia baik kontra di tangan manusia perusak.
Untuk membahas IPTEK ini, penulis tertarik mengembangkan teori, taksonomi, jurnal, Buku-buku Dr. Joni, M.Pd.B.I., yang menaruh perhatian penuh tentang kesatuan ilmu dan ahlak. Melalui Keakademisan Beliau mari kita bedah Dimensi IPTEK ini, agar jelas tergambar kepada kita betapa besarnya kehancuran berkehidupan Tanpa Akhlak.
Terkait "ilmu dan ahlak", Dr. Joni telah melaksanakan diberbagai kesempatan, dimajelis ilmu, secara kelembagaan maupun diluar itu. Dipemerintahan dan birokrasi misalnya, entah berapa saran, surat dan permohonan yang telah Beliau sampaikan ke Pemda, konsep pelestarian, tanah Adat, Amdal dan lain-lain menyangkut manusia dan alam. Konsep-konsep beliau yang sudah dituangkan maupun di seminar/diklat berlalu belaka alias dijadikan formalitas oleh oknum birokrasi yang “money oriented”. Buah-buah pikiran Dr. Joni seperti ”Jege Perala” dan konsep kegayoan seperti “TERLIS BERUME” tertib bermajelis umet berpemulie yang bernilai pelestarian alam dan keharmonisan hidup, menurut pantauan penulis tidak ada tindak lanjut serius dan di indahkan oleh pemerintah setempat.
betapa sedihnya dialog Dr. Joni seperti pengemis yang meminta-minta ke pemangku jabatan dalam satu sesi live di sebuah radio nasional. "kurang lebih isinya seperti ini, "kamini pak, entimi bepenayah, cumen kami niro tulung sana sikami tos dan susuni pedi i perhatin dan tosen regulasie, dan payung hukume, kati temas puren sahpe si mungkaji ini". Penulis sangat sedih sekali melihat konteks respon pemangku jabatan tersebut, dalam bahasa gayonya "barang nge mujadi, ipemudei mien" begitu tidak pekanya naluri dan empati pemerintahan, padahal tujuannya untuk kebaikan negeri ini bukan untuk seseorang atau kelompok tertentu.
Sudah menjadi kebiasaan birokrasi ini, bahasa birokrasi selama ini yang saya teliti cenderung redaksi bahasa teoritis, yakni "nanti akan kita diskusikan lebih lanjut" nanti coba kami koordinasi" nanti-nanti dan nanti.." , kata "Nanti" dalam hal ini mencerminkan oknum pejabat kita selalu berputar-putar di wilayah teori dan hanya modal bicara, bukan fokus ke pelaksanaan administrasi dan lapangan". Jarang sekali bahasa teknis seperti "besok akan kami ajukan" minggu ini kita usahakan sudah di tanda tangani beliau", "tolong susun dengan lengkap dan baik agar memudahkan bagian adminsitrasi kami" kecendrungan teknis semacam ini jarang sekali. Inilah model pejabat dalam bahasa gayo diistilahkan, "tertibpe gere bemejelis, umet te gere bepemulie, orang sudah menyediakan kolam dan ikannya, ia malah masih minta alat pancingnya juga.
Ada satu yang direspon oleh pihak terkait di pemerintahan yakni Upaya Dr. Joni agar menghidupkan kembali prosesi nilai adat iserahen ku guru, tingok sino, dan bepemunge yang sudah lama terkubur. Namun inipun sudah dengan susah payah ketika Dr. Joni bertugas di MAG. Akhirnya Pesantren Maqamam Mahmuda menjadi penyelenggara pertama prosesi ini. Alhamdulillah respon Tgk. Abdiansyah Linge sangat baik ketika itu. Entah saat ini itu sudah ada manjemen yang baik antara majelis adat, MPD, dan dinas terkait ini penulis tidak update dan tidak tau, payung hukum dan qanunnya bagaimana sudah dan sejauh mana?
![]() |
| Dr. Johanysah bersilaturahmi ke rumah Dr. Joni di pinangen. |
Dari sudut akademisi juga demikian, seperti pemikiran salah seorang pakar Pendidikan Karakter seaceh yakni Dr. Johansyah, M.A. yang terdokumentasikan di media lintasgayo.co tanggal 25/09/2021 yakni pentingnya blueprint pendidikan aceh tengah, mau dibawa kemana pendidikan ini. Inipun tergolong minim dukungan pihak dan dinas terkait. Dukungan konsep mungkin ada, namun ketika melaju ke dukungan teknis sepertinya tersendat-sendat. Senada dengan itu, seperti upaya Dr. Joni yang selama ini dilakukan yakni konsep tertib berlimu dan berakhlak yang banyak tertuang dalam jurnal dan buku yang harus segera ditumbuhkan dan berakar, inipun belum tumbuh dan goyah, Bahkan didalam tubuh dunia akademisi itu sendiri. faktanya, plagiarisme merajalela, oknum akademisi banyak tersandung kasus, korupsi dan banyak contoh lain dalam tubuh dunia pendidikan indonesia ini yang bisa penulis suguhkan bukti. Bagaimana kita bisa merasakan manfaat dari IPTEK itu sementara Pelaku IPTEK itu sendiri belum sepenuhnya komitmen menjalankannya dengan "Benar".
IPTEK yang saat ini sedang di amalkan orang, kebanyakan IPTEK yang sifatnya merusak dan menjadi bencana. Menurut buku AKAL TAK BERTUHAN 2025 yang ditulis oleh Dr. Joni yakni pada halaman 5 bahwa;
Di era modern, manusia semakin cerdas, prestasi semakin menonjol, pendidikan semakin tinggi, dan penampilan semakin menarik. Namun, kecerdasan dan atribut ini tidak menjamin moral atau kebijaksanaan. Fenomena ini tercermin dalam konsep “Akal Tak Bertuhan”, di mana akal manusia berkembang pesat tetapi kehilangan panduan spiritual dan etika. Realitas saat ini menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat, tanpa kontrol moral, menimbulkan bencana ilmu. Contohnya nyata: senjata nuklir dan biologis yang dapat memusnahkan jutaan manusia, manipulasi informasi melalui media sosial yang merusak demokrasi dan hubungan sosial, serta krisis lingkungan akibat eksploitasi sumber daya tanpa etika keberlanjutan. Semua ini menunjukkan bahwa akal dan ilmu, jika dilepaskan dari hati yang bersih dan niat yang lurus, dapat menimbulkan kerusakan besar bagi diri sendiri, masyarakat, dan alam semesta. ( Ama Joni)
Pada dimensi pertama ini, jelas bagi kita betapa bahayanya Ilmu tanpa nilai nilai ketuhanan, akan menjadi petaka besar saat ini, dan di masa yang akan datang. Nabi Muhammad SAW diutus untuk memberbaiki Akhlak, dan semakin yakinlah kita mengapa Nabi Muhammad SAW senantiasa harus menjadi Teladan Akhlak. Apa kalimat ulama sufi? kalau hanya Berilmu Iblis lebih tinggi ilmunya.
Kedua, Dimensi Kemanusiaan
Banyak spekulan atau oknum pedagang di wilayah yang terdampak bencana mencari kesempatan dalam kesempitan, harga beras tiba-tiba meningkat dua kali lipat. Padahal itu stok lama. Betapa menderitanya orang miskin, anak yatim dan janda. Orang yang punya uang cash dan kaya, tentu mampu mereka beli meski mahal. Tapi bagi yang bertaraf ekonomi menengah kebawah ini sangat menyakitkan sekali melihat anaknya meminta makan karena lapar.
Fakta pengalaman kami selaku penulis, ada terdengar pembicaraan seorang ibu yang berekonomi menengah kebawah yang kebunnya diketahui juga terkena longsor, persediaan berasnya sudah menipis. Ibu ini berbicara dengan keluarganya, yakni kurang lebih
“bapak itu pergi umroh untuk apa ya? Main-main kurasa duitnya kan banyak, lucu ya, kebunnya udah ada, mobilnya udah ada, rumahnya besar, ko gitu ya?” . Ibu itu sedang membicarakan/mepertanyakan oknum pedagang yang menjual beras stok lama dengan harga 400 ribu karung besar 15 kilo. Sebenarnya pembicaraanya lumayan panjang namun intinya adalah harganya kok mahal sekali dan tidak wajar. Peristiwa ini terjadi kurang dari seminggu pasca bencana. Seperti diketahui tidak ada yang menyangka banjir/longsor ini terjadi begitu parah, banyak orang tua tidak mempersiapkan beras dalam jumlah banyak. Kalau untuk masarakat ekonomi rendah memang sudah menjadi keharusan membeli beras kiloan.
Dari kedoifan, mudanya usia, dan rendahnya literasi/pemahaman agama yang penulis miliki, ocehan itu masuk kategori doa orang teraniaya. Ternyata ini juga terjadi di desa lain, penulis juga dengan kabar bahwa ditempat lainpun ada seperti itu kejadiannya. Namun alhamdulillah banyak juga yang konsisten menjual barang stok lama dengan harga standar. Ada juga saling bertukar barang, misal bensin dengan beras, ubi dengan kayu bakar dll. Namun yang kita pertanyakaan disini, mengapa masih ada manusia yang tega antar sesamanya dalam kondisi sudah kelaparan ini? rumahnya terdampak, berjalan kaki, mencari apa yang bisa dimakan. Padahal mayoritas kita beragama islam. Seharusnya inilah momen bersedakah dan membuat diri bermanfaat ketika orang memang sedang butuh. bukan malah menghisap darah sesama.
Dari bencana ini tergambar, ternyata banyak juga yang fokus menjaga ibadahnya kepada Tuhan, namun sisi kemanusiaanya antar sesama diabaikan. Tetangga kesulitan dia abaikan. Nafsi nafsi itu tergambar juga dalam bencana ini. Tega dan ironis, dalam bencana besarpun mereka santai terang-terangan dengan kerakusannya tanpa memperhatikan dan merasakan penderitaan orang lain. Mungkin ini yang disinggung surat Al-Ma’un, surat ini ternyata ada yang masih hanya sekedar hafalan saja dan didengar dengar dan didakwah-dakwahkan. Bencana ini seolah mempertanyakan mana realisasinya?
Ketiga; Dimensi Kesadaran
Bencana yang sudah kita alami kepedihannya ini seharusnya membuat kita sadar, yakni kesadaran bertuhan. Maksud kesadaran disini bukan ingat Tuhan dari selama ini lupa, lalu ingat lagi, bukan itu. Bukan pula proses “hijrah”. Tetapi Kesadaran berkelanjutan (merawat ekosistem hasil hijrah itu). Muncul refleksi penuh kedalam diri secara internal (personal), bukan hanya ke ekternal diluar diri, bukan hanya menyalahkan pemerintah semata, menyalahkan fulan/kelompok, sistem dll, tetapi yang prioritas adalah lebih kepada membangunkan fitrah dan kecendrungan kita akan bertuhan. Memang lumrah dan manusiawi kita mengkaji kekurangan disana-sini, karena kita mahluk sosial dan berkelompok, kalau kita tidak mengkaji kekurangan kita, bagaimana kebaikan itu bisa hadir. Namun disini penulis mengajak, mari kita "muarakan" semua unek-unek dan kajian sebab-akibat itu menjadi sebuah “kesadaran”. coba kita tasawufi peristiwa kauniah berikut sebab senada dengan bencana yang kita alami baru-baru ini;
Ketikan nabi Nuh A.S dalam proses membuat perahu untuk persiapan banjir besar, ada orang-orang yang sembuh penyakitnya (menjadi obat) karena mengambil kotorannya sendiri dari dalam perahu itu, namun tetap saja orang orang itu membangkang dan tidak mau mengakui ajaran Nabi Nuh A.S
Nabi Musa A.S. dengan izin ALLAH SWT membelah lautan, firaun ketika itu dapat merasakan dan mengamati bagaimana kedua air itu terpisah sampai kedasar laut, namun tetap firaun ingkar, kesadaran bertuhan ala firaun baru muncul ketika terombang-ambing dipukul gelombang, detak jantungnya meningkat, tubuhnya letih kedinginan, menatap ke langit dan barulah ia mengakui kelemahannya dan sekaligus ingin bersaksi (bersyahadat) namun hal itu sudah terlambat. ALLAH SWT lebih mengetahui dan firaun menemui maut (su’ul khatimah). semoga kita tidak termasuk kepada kesadaran seperti ini.
Tsunami aceh dan gempa di gayo serta covid semua pristiwa itu seharusnya membuat kita menjadi sadar berkelanjutan, yakni;
dalam kesusahan sadar, dalam kelapanganpun tetap sadar,
ada musibah kita sadar, tidak ada musibahpun tetap sadar,
miskin tetap sadar, ketika sudah kayapun tetap sadar,
ketika tua muncul kesadaran, waktu mudapun apa salahnya sadar,
dibulan ramadhan sadar, diluar ramadhan juga harus sadar.
Dimusim kampanye sadar membagi dan membantu, sesudah duduk dan kampanye berakhirpun tetap sadar membagi dan membantu, berhentilah "baik musiman" dan pencitraan. kebaikan itu berakar kuat, bukan tampilan fisik zahir.
Ketika fardu kifayah yang empat kita lakukan kita sadar, setelah kita tinggalkan kuburan itu, “kesadaran’’ juga harus ikut kita bawa pulang, peluk erat dan jaga kesadaran itu, perjalanan kita masih panjang. untuk itu mari kita bertuhan, bertuhan secara Sadar.
Radensyah
konten kreator
Admin kerenem Gayology


