Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jasmani terlanjur menyulang Rohani, Isi Perut menjadi Isi Hati oleh Radensyah, S.Pd

    Tuhan menciptakan banyak tempat dijagat raya ini. Salah Satu diantaranya bernama perut. Apa yang di konsumsi manusia tertampung sementara didalamnya, lalu diurai oleh organ tubuh. Makanan halal maupun yang haram akan di proses. makanan tersebut sebagian terbuang melalui buang hajat, ada juga yang menyatu dengan orang itu sendiri yakni turut menjadi bagian struktur tubuh.

    Terkait perut, indonesia sedang hangat membicarakan isi perut itu, yaitu Program makan bergizi gratis (MBG). Ulama islam terdahulu juga membicarakan isi perut. perbedaannya, Indonesia fokus pada apakah program ini dilanjutkan atau dihilangkan. sementara ulama islam fokus pada sumber makanan itu sekaligus hukum penentuan fiqihnya.

    Isi perut adalah pembicaraan sensitif, sebab ada sifat alami yang menyertai perut saat proses penciptaannya yakni lapar dan kenyang. contoh, ketika rasa “Lapar” timbul, yang terang bisa menjadi gelap, yang santai dapat menjadi emosi, yang ingat menjadi lupa, yang kuat menjadi lemah, yang tertawa akan menangis, yang cerdaspun berpeluang menjadi bodoh. Mungkin, Antonim-antonim tersebut inilah yang melatar belakangi kajian/kebijakan Presiden Prabowo dalam kampanye Pilpres lalu yang melahirkan program MBG, disamping pengaruh nuansa politik yang begitu mengkristal saat itu.
Kelaparan Bengal 1943
    Pada level krusialnya, perut jika tidak di isi makanan selama beberapa hari akan menyebabkan daya tahan tubuh lemah, sakit dan bisa mejadi penyebab meninggalnya seseorang (meninggal dalam keadaan kelaparan). Di gayo, jika dicermati, inilah yang menjadi sebab keutamaan sedekah itu tertuju pada beras. Ketika beras diberikan kepada tetangga atau peminta-minta, misal sebambu atau dua bambu, hal ini akan bermanfaat bagi penerima agar tidak merasa lapar lagi, sehingga memulihkan tenaganya dalam berikhitar dan bekerja.

    Dari mata sosiolog, isi perut menjelma sebagai bagian tatanan ekonomi kehidupan berkelompok yang harus dikontrol dan dievaluasi. Isi perut bisa membangun bisa juga merusak. Antrian sembako misal, juga berpotensi memicu kericuhan. Memang, faktor awalnya bukan isi perut, banyak pemicu lain seperti tidak mau antri, pandang bulu, terik panas matahari, lamanya menunggu, tidak adilnya panitia/pemerintah. Tapi faktor awal tetap ada pengaruh perut yang lapar. Antri bantuan minyak goreng, gas, atau THR, banyak menguji kesabaran. namun fakta psikologi individu mengemukakan kesimpulan lain, ketika minyak goreng, gas, atau THR diganti menjadi bantuan berupa buku, buku Iqro, atau diganti menjadi berbentuk kultum, atau gotong royong kemasjid. Kericuhan pun berkurang, antrian terlihat longgar, tenang dan tertib. tentu ini memerlukan penelitian lebih lanjut.

    Logika tanpa Logistik bla bla. ini adalah sebuah kalimat tamsil modern yang relevan dengan pengaruh isi perut. kalimat tamsil modern Ini benar, karena "organ untuk berfikir" menghabiskan 20% dari sumber daya energi tubuh. dapat di umpamakan baterai pada perangkat lunak. Baterai akan boros ketika prosesor digunakan multitasking. Alm. Tgk. Dr. Mahmud Ibrahim, MA, (Allahumagfirlahu) mengurai dengan tajam pembicaraan ini, hal ini dipaparkan dalam bukunya mengurai kata “Beras Padi Tungket Imen”. Beliau banyak menyadur lalu mepertemukan langsung literasi agama islam yang membicarakan hubungan makanan dengan orang beragama islam (gaya kajian poin to poin) sementara itu Zikri Fitra, S.Pd punya gagasan mencolok, seperti yang di ingatkan dalam artikel dibalik kata "Hanahpe cerite ruang tengah enti sawah kosong" 25 Oktober, 2021, dalam artikel itu Beliau menekankan bahwa nafkah ruang tengah (bahasa lain terkait isi perut) harus dicari dengan benar (sesuai syariat). Namun Beliau berharap jangan untuk jasmani saja, tapi wajib untuk rohani juga.

    Sebaliknya, Logistik tanpa Logika, juga sangat berbahaya. karena level kritisnya nanti adalah pada hilangnya empati dan belas kasih, karena mereka lalai, larut dengan dunianya/hartanya, sehingga lupa menghidupi nalar dan hati kecilnya, menistakan tujuan kehidupan ummat yakni manusia adalah makhluk sosial. contoh fakta, Umrah berkali-kali, sementara tetangga kelaparan, mobil mewah berjumlah 5, sedekah tidak pernah, zakat sudah lupa. Adzan sudah berkumandang, masih asik dan disibukkan dengan hartanya. Fenomena ini banyak dalam literasi sejarah islam, salah satunya adalah pada kisah tsa'labah.

    Nabi Muhammad SAW pernah melarang tsa'labah. Kire-kire ike bahasante gayo “entimi daleh itiroko ku aku (Nabimu) ku do’an ko kati kaya, nge ke meh iren-irenmu? sebeb ike kaya kase ko, terih aku gere sempat ne kase ko beribadah”. Karena tsa'labah ingin sekali kaya, ahirnya Nabi SAW Mendo’akan dan Tsa'labah pun menjadi kaya. Sangkin sibuknya, sampai ia tidak lagi hadir shalat berjamaah dan shalat jumat karena sibuk mengurusi hartanya.

    Menurut akal bodoh penulis, Nabi Muhammad SAW mengkhawatirkan ini juga (isi perut ini), tapi Baginda Nabi mengkhawatirkan dua hal yakni khawatir ummatnya lapar, khawatir ummatnya kenyang. Ketika ummatnya lapar, islam akan lemah, ketika perang kemungkinan kalah, orang lapar dekat dengan kekufuran. Ummatnya kalau lapar akan dimanfaatkan orang lain, menjadi budak komunitas lain. Disini, esensinya adalah berhati-hati dalam Kemiskinan.

    Juga sangat mengkhawatirkan, Ketika ummat Nabi Muhammad SAW dalam posisi kenyang. jika kita tekuni Bab isi perut di kitab-kitab klasik, ternyata memang jelas. Kemalasan beribadah ternyata penyebabnya tertalu kenyang. Malah dibanyak rujukan ajaran fikih islam, kita dianjurkan sering-sering puasa. Ketika makan tidak terkontrol (makan apa saja) bisa mengundang penyakit. Banyak makan juga memicu rasa kantuk. Makan secukupnya itulah anjuran Nabi yang Mulia. Makan sedikit meminimalisir potensi masuknya makanan haram. Makan berlebihan membuat hati keras. Disini, esensinya adalah hati-hati dalam Kekayaan.

    Isi perut (ruang tengah) itu urgen dan isi hatipun urgen. Namun menyoal perihal menyulang, ada baiknya, Rohanilah yang seharusnya menyulang Jasmani dengan penuh tuma’ninah, seperti membaca bismillah, alhamdulilah setelahnya, mengecek sumber makanan itu, makruh, syubhat, haram, halal, tayyiban, agar isi hati selamat. Keduanya penting, karena kita manusia berada dialam kasar, bukan alam halus yakni malaikat. mari kita berikhtiar mencari Nafkah dengan cara Rohani menyulang Jasmani.

*Radensyah
tinggal di Desa Merah Mege Atu Lintang
saat ini fokus meneliti dunia pendidikan